Riset Baru: Terlalu Banyak Aplikasi Membuat Karyawan di APAC Rentan terhadap Risiko Kredensial

Riset global dari Zoho dan Tigon Advisory Corp. menemukan bahwa peningkatan penggunaan aplikasi di APAC telah melampaui tata kelola kredensial. UKM menjadi kelompok yang paling rentan.

SINGAPURA – Media OutReach Newswire – 8 Mei 2026 – Zoho Corporation merilis State of Workforce Password Security 2026, sebuah studi riset global yang mencakup 3.322 responden terverifikasi dari sembilan wilayah, enam industri, dan dua belas peran. Laporan ini, yang dijalankan oleh Tigon Advisory Corp. atas nama Zoho Vault, menemukan adanya kesenjangan yang semakin melebar antara cara organisasi memandang risiko kredensial dan cara mereka menindaklanjutinya. Di APAC, 64% bisnis yang disurvei menggunakan lebih dari 15 aplikasi, dengan tata kelola kredensial terpadu muncul sebagai kebutuhan paling kritis yang belum terpenuhi di kawasan ini.
Temuan APAC dalam Laporan State of Workforce Password Security Terbaru

Bertepatan dengan Hari Kata Sandi Sedunia, laporan ini dirilis di tengah momen yang digambarkan para penulis sebagai titik balik penting. Dalam sampel global, satu dari tiga bisnis mengkonfirmasi telah mendapat serangan siber dalam setahun terakhir. 7% lainnya tidak dapat memastikan apakah mereka benar-benar telah diserang. Kawasan APAC sejajar dengan angka global dalam metrik ini.

“Hari Kata Sandi Sedunia diciptakan untuk mengingatkan orang-orang bahwa kredensial masih merupakan pintu masuk ke bisnis modern. Yang ditunjukkan riset ini adalah bahwa titik masuk tersebut telah berlipat ganda. Rata-rata karyawan APAC kini masuk ke lebih dari 15 aplikasi bisnis, dan sebagian besar organisasi tidak dapat sepenuhnya mengidentifikasi siapa yang memiliki akses ke apa di dalamnya,” kata Chandramouli Dorai, Chief Evangelist of Cyber Solutions di Zoho. “Masalahnya bukan pada minimnya investasi, tetapi pada investasi yang tidak memiliki keselarasan arsitektur. Akibatnya, bisnis menghadapi kesenjangan besar antara niat untuk meningkatkan keamanan dan hasil nyata yang dicapai.” APAC menempati posisi kedua sebagai wilayah dengan penggunaan aplikasi paling tersebar. Sebanyak 64% bisnis yang disurvei menggunakan lebih dari 15 aplikasi, 5 poin lebih tinggi dari rata-rata global.

Kondisi Keamanan di APAC

Terdapat tema yang konsisten dalam data responden APAC: kesadaran tinggi, niat pengeluaran tinggi, dan kesenjangan visibilitas yang persisten. Di antara responden APAC:

  • 32% mengalami serangan siber yang terkonfirmasi dalam setahun terakhir.
  • Sebanyak 73% bisnis belum memiliki visibilitas penuh terhadap identitas tenaga kerja mereka, termasuk akun orphaned dan akses yang tidak terdokumentasi, 1 poin lebih rendah dari rata-rata global.
  • 64% karyawan menggunakan 15 atau lebih aplikasi bisnis, lima poin di atas rata-rata global dan tingkat penyebaran aplikasi tertinggi kedua di antara semua kawasan global.
  • 66% belum menerapkan strategi Zero Trust, dengan sebagian besar non-adopter berharap untuk mengimplementasikannya dalam satu hingga tiga tahun ke depan, sejajar dengan rata-rata global.

Kesenjangan antara Keyakinan dan Implementasi AI

Survei ini juga mengukur sentimen bisnis tentang peran AI dalam strategi keamanan. Kepercayaan diri tinggi, dengan 91% responden APAC percaya bahwa AI dapat memperkuat postur keamanan mereka, namun hanya 8% bisnis secara global yang siap mengadopsi keamanan berbasis AI hari ini. Kesenjangan antara keyakinan dan penerapan ini sangat signifikan. Di antara fitur keamanan AI yang diinginkan, 68% responden memprioritaskan deteksi anomali dan ancaman, dibandingkan 47% yang memilih kontrol akses berbasis risiko.

Laporan ini mengidentifikasi infrastruktur lama, yang disebut oleh 52% responden global, serta kompleksitas migrasi, sebesar 48%, sebagai hambatan utama. Biaya berada di posisi ketiga dengan 41%. Temuan ini memperkuat pola yang berulang dalam data: kendala utama dalam meningkatkan kematangan keamanan bukanlah anggaran, melainkan arsitektur.

“Organisasi yang akan menavigasi lima tahun ke depan dengan paling efektif adalah mereka yang berinvestasi dalam kesederhanaan arsitektur, membangun model tata kelola yang berkembang seiring pertumbuhan identitas, dan mengadopsi orkestrasi berbasis AI untuk mengurangi hambatan,” kata Helen Yu, Pendiri dan CEO Tigon Advisory Corp. “Anggaran bukan hambatan utama pada kematangan keamanan; arsitektur, talenta, dan infrastruktur visibilitas adalah yang utama. Data dalam laporan ini adalah seruan untuk menyusun prioritas dengan benar: perbaiki fondasi sebelum mengejar kemampuan lanjutan.”

Masalah Aplikasi yang Tersebar

Laporan ini membingkai risiko kredensial sebagai fungsi dari pertumbuhan permukaan serangan, dan tidak ada kawasan yang berkembang lebih cepat daripada APAC. Budaya kerja mobile-first dan multi-cloud di kawasan ini berarti rata-rata karyawan kini mengakses lebih dari 15 aplikasi bisnis setiap hari di lingkungan kerja di kantor, hybrid, dan jarak jauh. Manajemen kredensial, dalam konteks ini, bukan merupakan masalah kerja jarak jauh. Ini adalah masalah struktural.

Namun, kurang dari satu dari empat organisasi secara global telah menerapkan manajer kata sandi khusus. Kesenjangan ini paling nyata di segmen UKM, yang mendominasi lanskap komersial APAC. Lebih dari separuh responden di organisasi dengan kurang dari 250 karyawan melaporkan tidak memiliki tim keamanan khusus, dengan keamanan kredensial diserahkan pada spreadsheet bersama, kebersihan manual, dan kebijakan informal, yang oleh laporan ini disebut sebagai “titik buta kredensial UKM.” Di kawasan di mana pertumbuhan yang dipimpin UKM menjadi inti dari beberapa perekonomian nasional, ini merupakan kerentanan yang sistemik dan sebagian besar belum ditangani.

Rekomendasi Data

Sebagai penutup, laporan ini merangkum enam hal penting yang perlu diprioritaskan bisnis pada 2026. Mulai dari menerapkan password manager terpusat, memperbaiki visibilitas identitas, menggabungkan manajemen kata sandi dengan autentikasi multi-faktor, menyusun roadmap Zero Trust, memastikan integrasi menjadi bagian dari strategi keamanan, hingga mulai menguji solusi keamanan kredensial berbasis AI dalam 12 bulan ke depan.

“Infrastruktur lama tetap menjadi penghambat utama antara penggunaan AI yang efektif, termasuk penerapan AI untuk keamanan,” kata Mani Vembu, CEO Zoho. “Tech-stack kami yang siap menghadapi masa depan dibangun di atas premis bahwa menempatkan identitas, akses, dan aplikasi pada fondasi arsitektur yang sama memberikan lebih sedikit peluang kepada kejahatan, visibilitas identitas yang lebih tinggi, dan cara yang lebih mudah untuk menambahkan AI dalam membantu deteksi ancaman. Seiring semakin canggihnya AI dalam mengeksploitasi kelemahan keamanan, migrasi ke platform yang aman dan AI-ready menjadi semakin mendesak.”

Metodologi

State of Workforce Password Security 2026 dilakukan oleh Tigon Advisory Corp. dan disponsori oleh Zoho Corporation. Studi ini didasarkan pada 3.322 responden terverifikasi dari sembilan wilayah (Amerika Serikat, Kanada, Inggris Raya, Uni Eropa, India, Timur Tengah dan Afrika, Australia dan Selandia Baru, APAC, Jepang, dan Tiongkok), enam industri, dan dua belas peran tenaga kerja. Data dikumpulkan pada awal 2026. Laporan lengkap, termasuk semua snapshot regional dan catatan metodologi, tersedia di https://www.zoho.com/vault/state-of-workforce-password-security-report.html.

Komitmen Privasi Zoho

Zoho menghormati privasi pengguna dan tidak memiliki model pendapatan iklan di bagian mana pun dari bisnisnya, termasuk produk gratisnya. Perusahaan memiliki dan mengoperasikan pusat datanya sendiri, memastikan pengawasan penuh atas data, privasi, dan keamanan pelanggan. Lebih dari 150 juta pengguna di seluruh dunia, di ratusan ribu perusahaan, mengandalkan Zoho setiap hari untuk menjalankan bisnis mereka, termasuk Zoho itu sendiri.

Tentang Zoho Vault

Zoho Vault adalah aplikasi manajemen kata sandi Zoho untuk individu, tim, dan perusahaan, menyediakan penyimpanan kredensial terpusat, berbagi aman, akses berbasis peran, autentikasi multi-faktor, dan integrasi dengan portofolio produktivitas, SDM, dan manajemen TI Zoho yang lebih luas. Zoho Vault disertakan dalam Zoho One dan juga tersedia sebagai langganan mandiri. Informasi lebih lanjut tersedia di zoho.com/vault.

Tentang Zoho Corporation
Dengan lebih dari 60 aplikasi di hampir setiap kategori bisnis utama, Zoho Corporation adalah salah satu perusahaan teknologi paling produktif di dunia. Zoho adalah perusahaan swasta yang menguntungkan dengan lebih dari 19.000 karyawan secara global, berkantor pusat di Austin, Texas, dan kantor pusat internasional di Chennai, India. Kantor Pusat APAC Zoho berlokasi di Singapura. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.zoho.com.
Penerbit hanya bertanggung jawab atas konten dalam pengumuman ini.

Tagar: #Zoho

https://www.zoho.com
https://www.linkedin.com/company/zohoapac