Milenial dan Gen Z Ubah Tren Pengelolaan Uang

RRINEWSS.COM– Generasi muda Indonesia mulai meninggalkan pola lama dalam mengelola uang. Seperti dikutip dari Suara, kesuksesan finansial bagi kalangan Milenial dan Gen Z kini tidak lagi semata diukur dari kepemilikan rumah, pekerjaan tetap, atau tabungan besar.

Mereka kini lebih mengutamakan kualitas hidup, fleksibilitas, dan kestabilan emosional. Perubahan pola pikir ini muncul seiring tekanan ekonomi yang semakin berat.

Faktor seperti mahalnya biaya hidup perkotaan, stagnasi upah, ketidakpastian pekerjaan, hingga menyusutnya kelas menengah memicu pergeseran tersebut. Kondisi ini membuat generasi muda harus mencari cara baru untuk bertahan.

Laporan IDN Research Institute menunjukkan generasi muda kini lebih realistis dalam menyikapi kondisi ekonomi. Menunda membeli rumah atau memilih gaya hidup minimalis menjadi strategi untuk menghadapi dunia yang makin tidak pasti.

Perubahan paling mencolok terlihat dari cara mereka mencari penghasilan. Banyak Milenial dan Gen Z memiliki lebih dari satu sumber pendapatan sekaligus, seperti proyek freelance, bisnis digital kecil, hingga pekerjaan sampingan kreatif.

Fenomena ini lahir dari kesadaran bahwa bergantung pada satu sumber pendapatan dianggap terlalu berisiko di tengah ekonomi yang fluktuatif. Selain itu, pengelolaan keuangan kini berubah menjadi aktivitas harian.

Anak muda rutin memantau aplikasi budgeting, mengatur alokasi tabungan secara real time, hingga membuat keputusan pengeluaran kecil setiap hari dengan lebih hati-hati. Meski demikian, Milenial dan Gen Z memiliki pendekatan finansial yang berbeda.

Kaum Milenial cenderung fokus pada stabilitas jangka panjang. Mereka lebih disiplin membangun dana darurat dan menjaga keamanan finansial.

Data menunjukkan sekitar 69% Milenial telah memiliki dana darurat untuk kebutuhan tiga bulan. Sementara itu, Gen Z lebih mengaitkan uang dengan kesehatan mental dan identitas diri.

Gen Z rela mengalokasikan dana untuk konser, traveling, terapi, atau self-care karena dianggap penting untuk menjaga keseimbangan hidup. Namun, hanya 23% Gen Z yang memiliki dana darurat tiga bulan.

Rendahnya dana cadangan ini mencerminkan prioritas dan cara pandang berbeda terhadap risiko. Di sisi lain, Gen Z juga lebih berani mencoba produk keuangan baru, mulai dari platform investasi digital hingga instrumen non-konvensional.

Keberanian Gen Z dalam bereksperimen ternyata juga meningkatkan risiko keuangan. Sebanyak 54% Gen Z dan Milenial di Indonesia mengaku pernah mengalami penipuan finansial di media sosial.

Ironisnya, hanya 37% yang merasa mampu mengenali modus penipuan. Sementara itu, hanya 28% yang rutin memverifikasi informasi keuangan sebelum mengambil keputusan.

Analis keuangan broker Elev8, Kar Yong Ang menilai pola baru ini sebenarnya merupakan bentuk adaptasi rasional terhadap dunia yang lebih digital dan penuh ketidakpastian.

Menurutnya, generasi muda Indonesia kini mengelola uang secara real time, memiliki banyak sumber penghasilan, terbuka terhadap teknologi finansial baru, dan mulai menyelaraskan uang dengan nilai hidup yang mereka yakini.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda sedang membangun kerangka baru tentang arti stabilitas keuangan di era modern. Di tengah derasnya arus informasi dan risiko penipuan digital, literasi keuangan menjadi investasi paling penting bagi generasi masa kini. ***(ant)