Alami Gangguan Pernapasan, Warga Batam Suspek MERS

RRINEWSS.COM- Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa pasien dewasa asal Batam yang saat ini dirawat di rumah sakit usai mengalami gejala gangguan pernapasan bukan suspek Super Flu atau influenza A (H3N2), melainkan suspek Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

“Yang dibilang oleh Kadinkes Kepri itu di Batam adalah suspek MERS, bukan Super Flu,” ujar Didi, Jumat (16/1).

Menurut Didi, pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan dari Timur Tengah, tepatnya setelah menunaikan ibadah umrah. Hal itu menjadi dasar kuat bagi tenaga kesehatan untuk mencurigai MERS, mengingat penyakit tersebut endemik di kawasan Timur Tengah.

“MERS itu berbeda dengan influenza A. Ini bukan Super Flu, bukan juga COVID-19. MERS adalah penyakit paru atau pneumonia berat yang disebabkan oleh virus corona jenis MERS-CoV,” jelasnya.

Ia menerangkan, MERS merupakan infeksi saluran pernapasan berat yang pertama kali dikenali pada 2012 di Timur Tengah. Gejalanya antara lain demam tinggi, batuk, sesak napas, dan pada kondisi tertentu dapat berkembang cepat menjadi gagal napas dengan tingkat kematian yang relatif tinggi.

“MERS ini masih satu keluarga dengan virus corona, tapi bukan COVID-19 dan bukan virus influenza,” tegas Didi.

Didi menambahkan, hingga saat ini status pasien masih suspek dan belum terkonfirmasi, karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Kementerian Kesehatan RI.

“Belum confirm. Kita masih menunggu hasil lab,” katanya.

Terkait penularan, Didi menjelaskan bahwa MERS tidak semudah flu atau COVID-19 dalam menyebar. Penularan antarmanusia biasanya terjadi melalui kontak dekat, terutama di lingkungan keluarga atau fasilitas kesehatan.

Selain itu, MERS diketahui berkaitan dengan unta dromedaris sebagai sumber penularan ke manusia.

Meski demikian, Didi mengimbau masyarakat Batam untuk tetap tenang dan tidak panik, sembari meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang baru kembali dari perjalanan luar negeri, khususnya Timur Tengah.

“Kewaspadaan tetap perlu, tapi masyarakat tidak perlu panik. Pemeriksaan dan penanganan pasien sudah sesuai prosedur,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala pernapasan berat, terutama disertai demam tinggi dan sesak napas, agar dapat ditangani lebih cepat. ***(btmp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *